Begitu banyak pelajaran yang bisa diambil dari setiap
pengalaman yang telah di lewati. Setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Di setiap
kejadian banyak tersimpan pelajaran dan makna yang bisa menyadarkan kita
tentang arti kehidupan. Sadarkah kita bahwa sebenarnya Tuhan itu memberikan
kita pelajaran lewat segala masalah, ujian dan kesulitan yang kita hadapi agar
Tuhan mampu melihat seberapa kuat dan
seberapa sabar kita melalui segala bentuk ujian tersebut serta menyadarkan diri
kita bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki daya apa-apa kecuali bantuan Tuhan
kita Allah SWT.
Izinkan saya bercerita tentang pengalaman saya dengan seorang
senior sekaligus guru kehidupan saya.
Minggu itu, merupakan minggu yang sangat menyibukkan buatku,
apalagi saat itu hingga saat kuketik tulisan ini, aku sudah memulai perjuangan
dalam menyusun proposal bakal Skripsi yang akan kubuat. Aku sangat ingat, hari
itu adalah hari jum’at, hari dimana proposal yang akan kuajukan ke pembimbing
untuk dikonsultasikan harus rampung hari itu juga karena rencananya hari minggu
besok aku ingin menyerahkan proposal itu pada pembimbingku. Jum’at pagi itu,
aku lagi ayik mendengarkan lagu kesukaanku sambil meng-edit proposalku, biar
tidak stress hehehe....lagi asyik-asyiknya di depan Laptop, ponselku berdering,
pas ku cek. Oh rupanya ada pesan masuk dari kak Mhiya lewat BBM.
Oh iya, sedikit kuperkenalkan. Kak Mhiya itu adalah seniorku
di ESQ. Dia bekerja di sebuah rumah sakit di palopo. Sebelumnya aku tidak
begitu akrab dengannya tapi, beberapa waktu yang lalu aku sudah sangat akrab
dengannya, mungkin karena beliau adalah sosok yang Friendly, mudah bergaul dengan orang lain, sosoknya sangat ramah,
dan mungkin semua orang yang dekat dengannya akan merasa nyaman berada
disampingnya
Okeh, kita kembali ke awal mula keakrabanku dengan kak Mhiya.
Pagi itu kak mhiya mengirimkanku pesan, beliau mengajakku untuk mengikuti
training di makassar. Training itu adalah lanjutan dari training yang pernah kuikuti sebelumnya.
Di mana di ESQ itu memiliki 4 tingkatan dalam trainingnya, nah yang akan
kuikuti dengan kak Mhiya saat itu adalah training
tingkatan ketiga. Aku sangat antusias saat mendengar ajakan itu, tapi, proposal
yang ada di hadapanku pagi itu membuyarkan antusiasku dengan seketika.
Bingunglah aku saat itu, di satu sisi training
itu adalah training terakhir yang akan di adakan di makassar, aku
tidak mau dong ketinggalan event
trakhir itu, tapi di sisi lain ada proposal
yang sudah kuusahakan beberapa minggu ini yang sebentar lagi rampung dan akan
kuserahkan pada pembimbing, sedangkan training yang akan kuikuti itu
berlangsung selama 2 hari, sabtu dan minggu. Hari minggu adalah targetku untuk
konsultasi dengan pembimbing, dan lagi aku tidak enak hati juga meminta uang
pada ibu untuk biayaku mengikuti training itu yang biayanya lumayan besar
bagiku. Arrrrrgggghhhh.......
Biginilah kalau pikiran masih belum dewasa, menentukan hal sepeleh begini saja
sudah hampir stress, Gubrak!!!! Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengikuti
ajakan kak Mhiya saat itu, walaupun dengan berat hati, tapi tahukah bahwa saat
itu kak Mhiya tak henti-hentinya membujukku untuk ikut dengannya. Aku
sebenarnya kesal karena info yang kuterima itu dadakan, bagaimana tidak kesal,
malam harinya kami sudah harus berangkat ke makassar, sedangkan aku belum
mempersiapkan apa-apa untuk berangkat, akhirnya keputusanku sudah bulat, aku
tidak ikut saja, karena lebih mementingkan proposalku, walaupun kak Mhiya tidak
pernah menyerah membujukku.
Tidak lama kemudian, ibuku menelpon, nah kebetulan nih mau
minta saran tentang keputusan yang kuambil tadi.
“Bu’, tadi ada info dari kak Mhiya, katanya di makassar ada
training ESQ tingkatan ketiga” Kataku pada ibu
“oya ?? acaranya kapan ?”
“sabtu dan minggu bu’”
“waaah...kok dadakan ?”
“nggak tau bu’”
“hmm...jadi kamu mau ikut ?”
“tadi, maunya ikut, tapi nggak enak juga mau minta uang ke ibu
karena biayanya agak mahal dari event sebelumnya”
“kalau mau ikut, ikut ajah, nggak papa kok”
“tapi, bu’ proposalku gimana?”
“coba telpon temanmu dulu, dosenmu itu ada atau tidak, jangan
sampe kamu nunggu tapi dosenmu itu tidak ada”
“oh iya yah bu’, nanti aku telpon dulu..hmm, tapi, bu’ kalau
ibu tidak punya uang, aku nggak papa deh nggak ikut”
“ah, nggak usah mikir uanglah, kebetulan masih ada, yang
penting itu manfaat untuk kamu, nggak papa”
“makasih yah bu’”
“iyah,,,”
Alhamdulillah...dapat solusi dari ibu, dapat izin pula yesss....Legaaaaaaa. Selanjutnya aku
menghubungi temanku yang sama-sama berencana konsultasi hari minggu besok. Dan
akhirnya dapat kabar baik, katanya proposal yang dia susun belum bisa rampung
minggu itu, akhirnya aku menunggu dia sampai merampungkan prposalnya dulu
minggu depan, karena kita sudah janjian untuk bersama-sama konsultasi ke
pembimbing yang kebetulan pembimbingnya juga sama denganku hehehe.....cihuuuuuuuyy... akhirnya berangkatlah
aku di malam hari tanpa beban proposal hihihihi.....
Segera aku memberikan informasi bahagia ini pada kak mhiya,
dan kak mhiya ikut senang mendengarnya. Katanya aku sudah di daftar dan malam
harinya kami akan berangkat. Ciihuuuyyy....
Malam harinya aku janjian dengan kak mhiya di perwakilan bus
yang akan kami gunakan ke makassar. Ibu menyempatkan diri menemaniku ke
perwakilan, mungkin karena dia ingin melihat pertama kalinya aku pergi tanpa
dirinya hehehe maklumlah anak ibu :D
Setelah aku dan ibu menunggu beberapa menit, seorang ibu paruh
baya yang tak asing kulihat berjalan menuju tempatku duduk. Sambil melihatnya
berjalan ke arahku, ingatanku secara kuat memutar-mutar di mana aku pernah
melihat ibu ini, setelah lama berpikir..oh iya, tadi kak mhiya sempat bilang
kalau kami akan berangkat bersama seorang ibu bernama bunda caya, nah sekarang
aku ingat di mana aku pernah melihatnya. Dulu waktu ada acara temu alumni,
beliau juga pernah ikut dengan rombongan alumni ESQ palopo.
Aku melemparkan senyum padanya, entahlah dia masih ingat aku
atau tidak, yang jelas beliau pasti akan mengenalku karena kami akan bersama ke
acara training besok harinya hehehe....Beliau juga membalas senyumku dan
berlalu melewatiku. Aku berpikir, mungkin ibu itu sudah lupa dengan wajahku,
secara ibu itu sudah agak tua, jadi maklumlah uuupppsss!!!! Beliau kembali lagi ke tempatku yang asyik duduk
bersama ibu, beliau sedikit kebingungan, mungkin sedang mencari keberadaan kak
mhiya. Aku seketika bertanya padanya
“Bunda...cari kak mhiya?” Kataku. Tumben betul aku menegur
orang duluan
“oh iya” sambil menengok ke arahku
“kak mhiya belum sampai, bunda katanya masih dalam perjalanan”
Ucapku
“hmm...yah, ini nurul bukan yah ?? tadi mhiya bilang kalau ada
yang ikut juga namanya nurul”
“iya bunda..yang di maksud itu saya”
“ooh....iya,,iya”katanya sambil mengangguk-angguk
“duduk disini bunda” kataku sambil menunjukkan kursi kosong
dekat dengan ibu
“iya..iya..” beliaupun duduk.
Beberapa menit duduk, eh rupanya ibu dan bunda caya ini sudah
akrab berbincang-bincang padahal baru pertama kali ketemu. Aku biarkan saja
mereka berdua berbincang, karena aku ini kan masih kecil belum mampu menerjemahkan
bahasa-bahasa orang dewasa (sok muda hehe).
Akhirnya mataku mengarah pada sosok perempuan cantik yang
turun dari motor. Itu dia kak Mhiya..syukurlah, aku jadi tidak kesepian lagi.
Kak Mhiya langsung berjalan ke arahku dengan senyumannya yang manis (ciiieeeeh).
“aduh,,maaf rul terlambat” Kata kak mhiya
“nggak papa,kak” jawabku
“oh iya...sudah ada bunda caya juga?” ucapnya ketika melihat
bunda caya yang lagi serius berbincang dengan ibuku.
“iya,kak...”
Tidak beberapa lama setelah kedatangan kak Mhiya, supir bus
mengintruksikan kami untuk naik dan duduk di kursi masing-masing. Aku, kak
mhiya dan bunda caya bersiap-siap untuk naik ke atas bus. Aku juga pamit dengan
ibu, kucium tangannya tanda minta restuku padanya semoga aku tiba di tujuan
dengan selamat dan semua kegiatan yang akan ku ikuti lancar serta mendapatkan
manfaat untuk bisa kubagi juga kelak pada ibu setibanya aku di palopo nanti.
Aku duduk berseblahan dengan kak mhiya, sedangkan bunda caya
duduk di samping kananku yang dibatasi lorong tempat orang berjalan. Kami
menikmati perjalanan selama 8 jam menuju kota makassar.
Ohoy.....Makassar
i’m comiing....
Waktu menunjukkan pukul 06.00 waktu makassar, bus kami
akhirnya tiba di kota makassar. Aku yang tadinya tertidur, seketika bangun
setelah mendengar kernek bus yang berteriak menyebutkan sebuah nama jalan. Itu
tanda bahwa bus kami akan segera melewati jalan tersebut, jadi bila penumpang
yang ingin turun di jalan tersebut bisa memberikan aba-aba agar supaya bus kami
berhenti untuk menurunkan penumpang tersebut.
Aku menyiapkan diri untuk turun, karena kulihat kak Mhiya juga
sudah siap-siap ingin turun. Aku tidak tahu kami bertiga akan turun di jalan
mana, yang jelas aku ikut saja terus dengan kak mhiya ke manapun dia pergi.
Setelah bunda caya memberi aba-aba pada pak supir untuk
memberhentikan busnya agar kami bisa turun, kami bertiga turun di sebuah
persimpangan jalan, dan melanjutkan perjalanan menggunakan taxi. Aku tidak tahu
persisi tujuan kami kemana, tapi yang kudengar dari pembicaraan kak mhiya dan
bunda caya, kami akan mengarah ke rumah adiknya bunda caya. Kami akan menginap
dan beristirahat disana.
Setibanya di rumah tersebut. Aku dan kak mhiya langsung di
tunjukkan sebuah kamar yang lumayan luas untuk tempat kami beristirahat. Nyaman
sekali kamar itu, kamarku saja tidak seluas kamar itu. Aku dan kak mhiya
menghempaskan badan di atas kasur yang sudah tersedia di kamar itu. Kami
bersama-sama menghela nafas karena kelelahan dari perjalanan panjang.
“rul, kita susun jadwal kita hari ini yah”
“siiip,kak”
“hmm..okeh, hari ini kita akan ke hotel tempat di adakannya
training, setelah itu, kita pamit sebentar dulu buat beli tiket pulang kita
besok malam”
“iya,kak....”
Setelah berbincang sejenak, suara bunda caya terdengar
memanggil kami
“mhiya, nurul...sini sarapan dulu” terdengar suara bunda caya
“iya, bunda sebentar” teriak kak mhiya
“rul, ayo kita keluar sebentar”
“iya,kak” kataku dengan mencoba bangun dari kasur yang empuk
itu
Kami bertiga duduk berbincang sambil menikmati kue dan
secangkir teh hangat, sebagai pengganjal perut kami yang keroncongan.
“Kami, mandi dulu,bunda takut nanti telat” kata kak mhiya
setelah sarapan
“oh iya....saya juga mau mandi ini” jawab bunda caya
Akhirnya aku dan kak mhiya masuk ke kamar dan mempersiapkan
pakaian yang akan kami gunakan ke tempat training.
Setelah mandi dan siap-siap, kami berangkat ke tempat training
itu di adakan. Setibanya disana, kak mhiya yang sudah lebih jauh senior dariku
sibuk berbincang melepas rindu pada alumni ESQ makassar. Bunda caya pun seperti
itu, sedangkan aku yang masih sangat junior hanya bisa duduk dan sesekali
melemparkan senyum pada semua orang yang lewat di hadapanku.
Training hari pertama merupakan training tingkatan kedua,
tapi, karena aku dan kak Mhiya sudah mengikuti training itu jadi kami duduk di
dalam ruangan sebagai alumni bukan peserta. Kami duduk dibelakang para peserta,
kami juga tetap mengikuti materi training kedua ini, yah,,itung-itung
mengulangi agar tidak lupa sepenuhnya dengan materi yang pernah di dapatkan
sebelumnya.
Jam istirahat tiba, aku dan kak mhiya melanjutkan agenda kedua
yaitu pergi membeli tiket pulang untuk besok malam. Kami pamit dan minta izin
pada bunda caya untuk pergi hanya sebentar saja. Setelah mengantongi izin,
pergilah kami ke tempat pemesanan tiket.
Di dalam taxi, sang supir taxi bertanya
“mau kemana bu’?” tanya supir taxi
“ke perwakilan bintang prima yah, pak” jawab kak mhiya
“kita lewat jalan mana,bu’? belok kanan atau terus aja ??”
tanyanya lagi
“terserah deh pak, mau lewat jalan mana, yang penting cepat
sampai” kata kak mhiya
“kita belok kanan saja yah bu’, agak jauh sih, nggak papa yah
bu’, soalnya kalau terus dijalan sana biasanya macet” jelas supir taxi
“iya, pak...” kata kak mhiya
Aku dan kak mhiya menikmati perjalanan dengan santai,
perjalanannya tidak seindah yang kubayangkan..bagaimana tidak ?? tadi, supirnya
bilang dibagian sana macet jadi mabil jalan yang jauh, eh,,,kayaknya sama saja,
malah perjalanannya lebih lama lewat jalan yang kami lalui, karena kena macet
juga. Huwwwaaaaah...... (kalau bisa
digambarkan kayak kartun, darah dikepalaku sedikit demi sedikit sudah mulai
membumbung tinggi, kayak tom and jerry)
“bagaimana pak supir ini, tadi bilangnya menghindar macet tapi
dapat macet” kesalku dalam hati
Aku berbalik melihat ke arah kak mhiya, loh kok kak mhiya
biasa-biasa aja yah...tidak ada raut wajah yang kesal nampak di wajahnya. Tapi,
entahlah mungkin juga dalam hatinya sedang kesal, tapi tidak mau menampakkannya.
Hampir 1 jam setengah kami naik taxi yang waktu perjalanan
normalnya hanya sekitar 30 menit untuk bisa sampai ke tempat tujuan kami. Ah,
sudah lapar, pak supirnya bikin esmosi pula.
Setibanya di perwkilan bintang prima tempat kami memesan tiket
pulang, aku mengeluh pada kak mhiya
“tadi supir taxinya ambil kesempatan yah kak, bilangnya tadi
mau menghindari macet tapi dapat macet juga”
“udahlah, dek nggak papa, namanya juga supir taxinya berusaha
menghindari macet, yah nasib kita aja mungkin yang dapat macet hehehe”
Oalah....kak mhiya ini tidak marah, padahal biaya taxi yang
dikeluarkan tadi cukup besar, yang sebenarnya tidak mencapai sebesar itu jika
tadi tidak lewat di daerah macet.
“kita nanti mampir di mall yah, rul. Kita makan disana ajah
skalian cuci mata (baca:jalan-jalan)” kata kak mhiya sambil tersenyum
“iya kak” jawabku antusias karena ada kalimat “makan” terucap
di mulut kak mhiya hehehehe.....
Ah, seketika darah di kepalaku yang naik karena supir taxi
tadi sudah mulai turun karena mendengar kata-kata dan senyum manis kak mhiya.
Setelah membeli tiket, kita naik taxi lagi, tapi alhamdulillah
supir taxi-nya baik, dan ramah. Di atas taxi, aku merenungi kesalahanku tadi
yang marah-marah dan menyalahkan pak supir taxi tadi. Aku sadar bahwa semua
yang terjadi sudah diatur oleh Allah, jadi tidak sepantasnya aku ini mengeluh, Astagfirullaaah..... Ah, andai bisa
kukejar supir taxi tadi, aku mau minta maaf padanya karena sudah menyalahkan
kejadian tadi.
Taxi yang kami tumpangi sudah tiba di mall tujuan kita “Panakukang
Mall”. Kak Mhiya yang kuanggap seperti guide-ku
yang mengajakku keliling-keliling hehehehe (maaf kak Mhiya, bercanda) akhirnya
membawaku ke sebuah restoran atau warung atau apalah namanya yang jelas tempat
itu adalah tempat makan yang bisa mengeyangkan perutku di saat itu.
Makan...makan...makan....
Perut kenyang, kami berjalan-jalan sambil cuci mata. Setelah
puas jalan-jalan kami kembali ke hotel tempat kami berangkat tadi. Setibanya di
hotel, aku dan kak mhiya duduk-duduk sambil menghela nafas.
“loh..dari mana kalian, kok ngos-ngosan ?” kata kak ratu,
alumni makassar
“hehehe...habis jalan-jalan,kak” Jawab kak Mhiya sambil
nyengir
Kak Ratu hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar kata-kata
kak Mhiya.
Tidak beberapa lama, ada seorang alumni yang katanya sangat
akrab dengan kak Mhiya, namanya kalau tidak salah “kak Fhia” kalau nggak salah
ingat sih namanya begitu.
Kak Mhiya dan kak fhia berbincang-bincang dengan antusias di
sebelahku yang sibuk mencet-mencet gadget.
Tak kusadari, karena jarak antara aku dan kak mhiya yang sedang curhat-curhatan
dengan kak fhia, aku mendengar dengan jelas segala topik perbincangan mereka.
Sebenarnya aku tidak punya niat untuk mendengar atau kepoin pembicaraan mereka,
tapi, perlu kuluruskan, ini terjadi karena jarak yang membuat telingaku
menangkap topik pembicaraan mereka. Disitulah baru ku ketahui bahwa sebenarnya
kak Mhiya yang selama ini ku kenal ceria itu ternyata punya masalah yang sangat
serius (aku tidak menceritakannya di sini, karena itu merupakan rahasia oranglain
yang tidak sepantasnya kuungkap disini, cukuplah Aku, kak Mhiya, kak Fhia dan
Allah yang tahu atau siapa saja yang sudah mengetahui itu).
Pembicaraan dan sesi curhat-curhatan kak mhiya terhenti ketika
suami dari kak fhia memberikan aba-aba pada kak fhia untuk segera pamitan pada
kak mhiya. Mereka lagi-lagi melepas rindu dengan berpelukan.
Hmm...aku terdiam dan merenungkan pembicaraan kedua perempuan
tadi. Sungguh aku tidak pernah menyangka kalau kak Mhiya yang selama ini ku
kenal murah senyum, ceria seperti tidak punya masalah itu ternyata punya
masalah yang menurutku cukup besar. Karena rasa bersalah yang cukup besar telah
mendengar topik pembicaraan kak mhiya dan kak fhia, akhirnya aku mencoba
beranikan diri meminta maaf pada kak mhiya saat kami berada di dalam ruangan
training.
“kak...aku minta maaf yah”
“maaf kenapa, dek ?”
“anu,kak tadi secara tidak sengaja, aku dengar semua
pembicaraan kak mhiya dengan kak fhia” aku mencoba menjelaskan, aku pasrah
kalau saat itu kak mhiya marah padaku, karena itu sudah menjadi resikoku karena
hal yang sepantasnya tidak boleh kudengar.
Tak kusangka, air mata kak mhiya tumpah ruah, begitu derasnya
sampai akupun tidak tahan melihatnya manangis tersedu, akupun juga ikut
menangis dan hanya bisa membisikkan sebuah kalimat di telinganya yang kuucapkan
dengan suara yang bergetar karena ketidaksanggupanku melihatnya menangis.
“kak sabar yah” kataku dengan suara lirih
Kak mhiya hanya bisa menganggukkan kepalanya yang tertunduk
menahan tangis.
"Ya Allah, berikan kekuatan pada kak Mhiya, agar mampu melawan
kesedihan yang merasuki hatinya. Jika ujian itu dapat menambah keimanannya
padamu, mohon jaga dia agar tidak berputus asa pada rahmatmu...."
Hanya do’a itu yang mampu terucap di dalam hati sambil
merangkul kak mhiya di sebelah kananku yang duduk tertunduk dalam tangisnya.
Setelah sedikit membaik, kak mhiya kembali mencoba terlihat
tegar di depanku, lalu berkata
“aku sudah baik-baik saja, dek” sambil berusaha menyunggingkan
kembali senyum manisnya.
Walaupun kata-kata itu sedikit membuatku lega, tapi hatiku
belum sepenuhnya bisa melepaskan kesedihan yang baru saja kulihat dari
wajahnya.
Untungnya saat training lampu dalam ruangan itu agak redup,
jadi hanya aku yang bisa melihat kak mhiya menangis, tapi Dila salah seorang
alumni di sana juga sempat melihat kak Mhiya menangis, dia mencoba membujukku
agar bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“kak mhiya kenapa, kak nurul ?”
“hehehe,,,kak mhiya sakit perut” Kataku
“ah, bohong, ayo kak ceritakan padaku” sambil mengguncangkan
badanku
“serius, dila..kak mhiya itu sakit perut” mencoba meyakinkan
“awas yah kalo bohong” ucapnya mengancam
Aku hanya bisa tersenyum dan tidak meng”iya”kan ancamannya
hehehe...Maaf yah Dila
Setelah training hari pertama selesai, aku dan kak mhiya
membujuk Dila untuk ikut menginap di tempatku. Aku dan kak Mhiya yang mencoba
melupakan kejadian tadi, membujuk Dila agar mau ikut bersama kami.
“ayolah, dil....nanti kita jalan-jalan ke mall dulu deh, nanti
aku yang traktir” bujuk kak mhiya
“tapi, aku rapat kak, gimana dong ?” jawab dila memasang wajah
memelas
“yaudahlah, kamu tidak usah ikut saja” Kataku bercanda
“yaaaah...tapi, aku mau makan”
“kalau begitu kamu tidak usah ikut rapat saja”
“tidak bisa,kak...ini penting”
Akhirnya keputusan dari debat kami itu adalah aku dan kak
mhiya harus menunggu Dila selesai rapat baru kami berangkat ke mall. Dasar dila
itu adik durhaka, mau-maunya nyuruh kakak-kakanya menunggu hehehehe (piss dila J).
Setelah menunggu beberapa menit, Akhirnya rapat yang diikuti
Dila selesai. Berangkatlah kita ke mall. Tujuan awal kita adalah tempat makan
dulu, baru lanjut ke toko buku.
Capek jalan-jalan, mengingat dan mempertimbangkan waktu yang
sudah semakin malam. Kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Sebelum pulang kami
singgah ke kost Dila untuk mengambil perlengkapan mandi dan baju ganti.
Keluar dari mall, kami naik taxi, yang membuatku nyesek adalah
supir taxi yang kami gunakan itu lumayan cerewet.
“Kayaknya kita salah naik taxi,dil” biskku pada dila yang
duduk di belakang supir taxi, sedangkan kak Mhiya duduk di samping supir.
“iya,kak capek deeh” jawab Dila
Bapak supir taxi itu selalu mengeluh, kami sebagai penumpang
jelas risihlah dengan ocehan bapak itu.
Aku dan Dila hanya bisa mengernyitkan kening menahan kesal
pada supir taxi itu. Kami mencoba memberitahukan keinginan kami untuk turun
dari taxi itu pada kak Mhiya. Dila mengirimkan sebuah pesan lewat SMS pada kak
Mhiya. Terdengar ponsel kak mhiya berdering tanda SMS masuk. Kak mhiya membalas
pesan Dila, isinya seperti ini :
“udah terlanjur,dek. Anggap saja kita bantu bapak cerewet ini
cari rejeki”
Ya Allah, masih ada yah manusi se-tulus kak Mhiya.Subhanallah.. sumpah, sampe skarang aku
masih belum bisa percaya loh, kak mhiya tidak merasa risih mendengar ocehan
bapak supir taxi yang cerewet itu. Dengan berat hati, kami hanya bisa mengikuti
perkataan kak Mhiya.
Taxi kami tiba di kost Dila, kak Mhiya mengintruksikan aku dan
Dila untuk masuk ke kamar Dila dan mengambil pakaian dan peralatan Dila,
sedangkan kak Mhiya menunggu di taxi.
Aku dan Dila segera berlari menuju bangunan yang banyak
terdapat pintu kamar. Aku mengikuti kearah mana Dila berjalan.
“aduh..aku nggak enak nih,kak mhiya nunggu di taxi, pasti
argonya jalan terus tuh” Kata Dila
“yaudalah, jangan banyak bicara, kita bergerak cepat saja”
Jawabku
“iya,kak”
Setelah semuanya di masukkan ke dalam tas, kami bergegas
menuju taxi. Kami masuk dengan nafas yang ngos-ngosan.
“udah ??” terdengar suara kak Mhiya
“iya,kak” jawabku sambil mencoba mengatur nafas
“kita jalan,pak” instruksi kak Mhiya pada supir cerewet itu
Taxi yang dikemudikan bapak cerewet membawa kami ke rumah adi
bunda Caya.
Tibalah kami di rumah tujuan kami. Kak Mhiya membuka dompet
dan mengambil uang dan membayar sewa taxi sesuai dengan nilai yang tertera di
argo taxi. Sedangkan aku dan Dila bisa bernafas lega karena telinga kami
akhirnya bisa bebas dari ocehan bapak cerewet itu.
Kami di sambut oleh bunda Caya yang sedari tadi pulang duluan.
Kami masuk ke kamar untuk istirahat. Meng-istirahatkan pikiran, telinga dan
badan kami.
“Syukurlah kita bisa bebas dari supir taxi tadi” gerutu Dila
“kenapa emangnya ?” Kata kak Mhiya tenang sambil membuka
kerudungnya
“iya,kak apaknya cerewet” Kataku memotong pembicaraan Dila dan
Kak Mhiya
“hehehe....kalian tau tidak, tadi waktu kalian masuk ke kost,
aku kan berdua di taxi. Aku kasi tau bapak supir itu begini : pak, jangan suka
ngeluh, bapak itu cari rejeki loh, tidak baik mengeluh seperti itu”
“terus, bapaknya bilang apa,kak ?” tanya Dila
“nggak bilang apa-apa, dia diam saja hehehe...”
Ya ampuun....kak Mhiya ini, masih bisa tersenyum lebar setelah
apa yang terjadi ??
Malam itu aku merenung dan menatap kak Mhiya yang lagi bercanda
dengan Dila. Aku tidak habis pikir, kak Mhiya ini punya masalah berat tapi
masih bisa tenang menghadapi situasi yang kurang mengenakkan, Ya Allah....Aku
bingung, Allah buat hati ka Mhiya dari apa yah ?? kenapa bisa sabar begitu.
Malam itu ditutup dengan banyak pelajaran. Pelajaran kehidupan
yang secara tidak langsung ditunjukkan Kak Mhiya lewat perilakunya yang ceria
diatas cobaan hidupnya. Self controling-nya
benar-benar hebat. Padahal kak Mhiya itu belum ikut training Self controling.
Keesokan harinya kami bertiga beserta bunda caya bergegas
siap-siap untuk ke hotel tempat tarining yang akan kami ikuti. Sesampainya di
sana, kami mengikuti training yang khusus membahas tentang self controling. Nah, kak Mhiya pasti tambah mantap dalam
mengontrol dirinya setelah training nanti, karena belum dapat materinya saja,
jurus self controling-nya sudah diaplikasikan bagaimana kalau sudah tau
teorinya...ckckckck.....*AngkatJempol hehehe....
Setelah training berakhir, kami sempat mengabadikan
kebersamaan kami dalam sebuah foto. Dan itu menjadi kenangan bagiku.
| Kak Mhiya (jilbab Biru), Dhila (Cewek yg mengenakan Kacamata) |
Malam harinya aku dan kak Mhiya kembali ke kota kami, Palopo. Kami pulang dengan membawa banyak kenangan dan pelajaran berharga.
Aku pernah mendengar kalimat "Jika seseorang dapat tersenyum di atas masalah yang sedang dia hadapi, berarti orang itu sangat pandai menyembunyikan kesedihannya" Mungkin kalimat itu yang sangat cocok kutujukan pada kak Mhiya. Aku sangat salut pada kak Mhiya karena walaupun dia memiliki masalah berat tapi dia mampu menyembunyikan semuanya di depan orang-orang. Memang sebagai manusia kita tidak pantas memamerkan masalah atau kesedihan yang kita alami, cukuplah Allah yang mengetahui segala apa yang terjadi, dan Allah pula yang akan membereskan semuanya.
Semoga Allah senantiasa bersama kak Mhiya dalam kesulitan apapun yang dihadapinya.
Aku pernah mendengar kalimat "Jika seseorang dapat tersenyum di atas masalah yang sedang dia hadapi, berarti orang itu sangat pandai menyembunyikan kesedihannya" Mungkin kalimat itu yang sangat cocok kutujukan pada kak Mhiya. Aku sangat salut pada kak Mhiya karena walaupun dia memiliki masalah berat tapi dia mampu menyembunyikan semuanya di depan orang-orang. Memang sebagai manusia kita tidak pantas memamerkan masalah atau kesedihan yang kita alami, cukuplah Allah yang mengetahui segala apa yang terjadi, dan Allah pula yang akan membereskan semuanya.
Semoga Allah senantiasa bersama kak Mhiya dalam kesulitan apapun yang dihadapinya.
Tulisan ini kudedikasikan untuk kak Mhiya. Semoga allah
senantiasa menjaga hatinya agar bisa tetap kuat menjalani cobaan dalam
hidupnya. Dan semoga aku juga bisa setegar dan sehebat kak Mhiya. Terima kasih kak
Mhiya untuk pelajaran berharga ini.
Kupersembahkan karya sederhanaku ini, Walaupun masih banyak kesalahan
dalam penulisan makna dari kalimat ataupun salah dalam penulisan kata, mohon
dimaapkan yak hehehehe...

0 komentar:
Posting Komentar