“Dan kami perintahkan kepada
manusia (untuk berbakti kepada) kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya
dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun maka
bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu dan hanya kepada-Kulah
kembalimu” (QS
Luqman : 14)
Saya sangat percaya, mama adalah
utusan perpanjangan tangan Allah. Jalan hidup saya sudah diatur sedemikian rapi
olehNya, dan mama ditugaskan untuk menuntun, membimbing dan mengarahkan ke
jalan yang benar.
Di dunia ini, setiap orangtua
sudah jelas menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Pun dengan mama,
satu-satunya orangtua yang tersisa dalam hidup saya setelah ayah berpindah alam.
Manusia keramat yang selalu mengalirkan do’a-do’a indah di setiap ucapannya.
Wanita yang keikhlasannya tidak ada yang bisa menandingi.
Mama adalah manusia yang bisa
berperan ganda. Beliau bisa berubah menjadi Ayah, bisa jadi teman, sekaligus
sebagai ibu untuk saya. Walaupun hubungan kami sangat dekat dan sering
menghiasi hari-hari dengan canda tawa, saya juga pernah kesal, marah bahkan
mengurung diri. Sekedar memutar memori beberapa tahun silam. Saat itu, sebagai
anak remaja yang memiliki semangat menggebu untuk mewujudkan mimpi bersekolah
di universitas ternama, saya meminta izin pada mama untuk melanjutkan
pendidikan ke jogja. Sebagai orangtua satu-satunya yang saya miliki, saya memang
selalu meminta pendapat mama dalam hal apapun, karena mama memang selalu tokcer
dalam memberikan saran. Tapi, hari itu saya berusaha menepis kata “tokcer” itu.
Pikiran saya dipenuhi dengan mimpi-mimpi indah untuk bisa bersekolah di
jogjakarta.
“saya mau belajar mandiri, ma”
Kata saya
“mandiri itu bisa kamu ciptakan
sendiri, nak. Tidak hanya tinggal di kampung orang kamu bisa digolongkan
mandiri” Nasihat Mama
“Setidaknya kan kalau di sana,
saya bisa lakukan semuanya sendiri” Batin saya, tidak mau membantah kata-kata
Mama
“memulai membereskan kamar
sendiri, itu sudah bagian dari mandiri, nak” Lanjut Mama
Saya hanya menggerakkan kaki,
membawa tubuh saya masuk ke kamar. Saya tidak berani membantah kalimat mama
saat sedang bicara. Tidak keluar kamar adalah bentuk protes saya pada mama, dan
mama sangat paham dengan bahasa tubuh saya itu.
“Abang sama Mbak, semuanya bisa
sekolah di tempat yang mereka mau, tapi kenapa saya tidak bisa?” Berontak hati
kecil saya
***
Malam hari, saya keluar kamar,
berniat untuk mengambil air minum. Kamar tidur saya berhadapan dengan ruang
keluarga. Terlihat mama tertidur dengan pulas di depan TV. Entah kenapa hati
ini tergerak untuk menghampirinya. Langkah kaki saya gontai berjalan ke arah
mama, sisa amarah siang tadi masih ada, tapi sedikit demi sedikit terasa mulai
terkikis.
Saya tatap wajah mama yang tidur
dengan nyenyak, tidak ada beban yang nampak, hanya terlihat wajah yang sedang melepaskan
kelelahan.
Tik...
Sebuah butir air jatuh ke pipi
mama. Saya buru-buru menepisnya, jangan sampai mama terbangun. Terlambat, mata
mama sekarang menatap mata saya yang sembab karena menangis.
“kamu kenapa, nak?”
“Saya mau kuliah di sini saja,
ma” Ujar saya dengan suara lirih
“loh”
“Mungkin setiap anak mama punya
cara berbeda untuk bisa bahagiakan mama. Abang sama Mbak sudah buat mama bangga
karena prestasi mereka. Sekarang giliran anak bungsu mama, kalau memang
menemani mama di sini, bisa buat mama bahagia, saya mau menuruti semua apa mau
mama”
Mama tidak mengeluarkan satu kata
pun. Kami terisak, dan...berpelukan.
Pelukan mama memang selalu menenangkan,
penawar amarah paling manjur.
“Mama tidak usah merasa bersalah
yah, saya sudah pikirkan baik-baik. Kalau saya kuliah jauh dari mama, saya juga
tidak bisa konsentrasi belajar karena ingat mama terus di sini sedirian. Saya
tidak mau mama tinggal sendirian” sambil mengelus punggung tangan mama
Mama masih berurai air mata,
bukan sedih tapi ada lengkung senyum bahagia di bibirnya.
Walau saya tidak bisa bersekolah di
universitas ternama, tapi saya bahagia. Saya bisa kuliah dan belajar dengan
tenang di samping mama, sekaligus bisa menemani dan menghabiskan banyak waktu
bersama mama. Itu yang terpenting, kebersamaan dengan mama adalah anugerah yang
paling berharga yang telah Allah berikan untuk saya.
Hingga detik ini, saya tidak
pernah sedikit pun merasa menyesal akan keputusan yang telah saya ambil
beberapa tahun silam. Mama pernah bilang “sekolah dimanapun kalau niatnya cari
ilmu, InsyaAllah hidup kita berkah”. Dan pada akhirnya, saya bisa menyandang
gelar sarjana tanpa beban sedikitpun, lagi-lagi keyakinan saya membuktikan,
semua berkat do’a dan dukungan mama yang selalu berada di samping saya.
“Keridhaan
Allah tergantung kepada keridhaan kedua orangtua dan murka Allah pun terletak
pada murka kedua orangtua”
(HR. Al-Hakim)
Terima kasih Ya Rabb, telah membuka pintu hati untuk bisa berpikir bijak dalam
mengambil keputusan dan terima kasih atas peristiwa penuh hikmah.
Mama , terima kasih untuk semua
pengorbanan dan kasih sayang yang telah tercurah. Terima kasih untuk pelajaran
hidup. Semoga Allah membalasnya dengan surga.
Rasulullah
shalallahu’alaihi wasallam ditanya tentang peranan kedua orangtua. Beliau lalu
menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu. (HR. Ibnu Majah)
***
Dear mama....
Mungkin lidah ini
masih kelu untuk sekedar mengucapkan kalimat “Saya sayang sama mama”
Mungkin mulut ini masih kaku
untuk mengungkapkan “saya cinta mama”
Diri ini belum bisa membuktikan
sayang dan cinta itu untuk mama
Tapi, jangan khawatir, nama mama
selalu menjadi prioritas dalam setiap do’a
Dear mama....
Maafkan diri ini, belum bisa
memberikan yang terbaik
Masih selalu membuat hati mama
merasa sedih
Mohon ampun untuk semua kesalahan
yang telah terjadi
Saya selalu berusaha untuk
menjaga mama
Sehat selalu mama, saya masih
butuh do’a, cinta dan sayang mama
Peluk
sayang dari Putri Bungsumu
Nurul Khusyu’ah Djadid
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co

0 komentar:
Posting Komentar