Pages

Senin, 14 Desember 2015

Manusia Keramat Satu-satunya


“Dan kami perintahkan kepada manusia (untuk berbakti kepada) kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu dan hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS Luqman : 14)
Saya sangat percaya, mama adalah utusan perpanjangan tangan Allah. Jalan hidup saya sudah diatur sedemikian rapi olehNya, dan mama ditugaskan untuk menuntun, membimbing dan mengarahkan ke jalan yang benar.
Di dunia ini, setiap orangtua sudah jelas menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Pun dengan mama, satu-satunya orangtua yang tersisa dalam hidup saya setelah ayah berpindah alam. Manusia keramat yang selalu mengalirkan do’a-do’a indah di setiap ucapannya. Wanita yang keikhlasannya tidak ada yang bisa menandingi.
Mama adalah manusia yang bisa berperan ganda. Beliau bisa berubah menjadi Ayah, bisa jadi teman, sekaligus sebagai ibu untuk saya. Walaupun hubungan kami sangat dekat dan sering menghiasi hari-hari dengan canda tawa, saya juga pernah kesal, marah bahkan mengurung diri. Sekedar memutar memori beberapa tahun silam. Saat itu, sebagai anak remaja yang memiliki semangat menggebu untuk mewujudkan mimpi bersekolah di universitas ternama, saya meminta izin pada mama untuk melanjutkan pendidikan ke jogja. Sebagai orangtua satu-satunya yang saya miliki, saya memang selalu meminta pendapat mama dalam hal apapun, karena mama memang selalu tokcer dalam memberikan saran. Tapi, hari itu saya berusaha menepis kata “tokcer” itu. Pikiran saya dipenuhi dengan mimpi-mimpi indah untuk bisa bersekolah di jogjakarta.
“saya mau belajar mandiri, ma” Kata saya
“mandiri itu bisa kamu ciptakan sendiri, nak. Tidak hanya tinggal di kampung orang kamu bisa digolongkan mandiri” Nasihat Mama
“Setidaknya kan kalau di sana, saya bisa lakukan semuanya sendiri” Batin saya, tidak mau membantah kata-kata Mama
“memulai membereskan kamar sendiri, itu sudah bagian dari mandiri, nak” Lanjut Mama
Saya hanya menggerakkan kaki, membawa tubuh saya masuk ke kamar. Saya tidak berani membantah kalimat mama saat sedang bicara. Tidak keluar kamar adalah bentuk protes saya pada mama, dan mama sangat paham dengan bahasa tubuh saya itu.
“Abang sama Mbak, semuanya bisa sekolah di tempat yang mereka mau, tapi kenapa saya tidak bisa?” Berontak hati kecil saya
***
Malam hari, saya keluar kamar, berniat untuk mengambil air minum. Kamar tidur saya berhadapan dengan ruang keluarga. Terlihat mama tertidur dengan pulas di depan TV. Entah kenapa hati ini tergerak untuk menghampirinya. Langkah kaki saya gontai berjalan ke arah mama, sisa amarah siang tadi masih ada, tapi sedikit demi sedikit terasa mulai terkikis.
Saya tatap wajah mama yang tidur dengan nyenyak, tidak ada beban yang nampak, hanya terlihat wajah yang sedang melepaskan kelelahan.
Tik...
Sebuah butir air jatuh ke pipi mama. Saya buru-buru menepisnya, jangan sampai mama terbangun. Terlambat, mata mama sekarang menatap mata saya yang sembab karena menangis.
“kamu kenapa, nak?”
“Saya mau kuliah di sini saja, ma” Ujar saya dengan suara lirih
“loh”
“Mungkin setiap anak mama punya cara berbeda untuk bisa bahagiakan mama. Abang sama Mbak sudah buat mama bangga karena prestasi mereka. Sekarang giliran anak bungsu mama, kalau memang menemani mama di sini, bisa buat mama bahagia, saya mau menuruti semua apa mau mama”
Mama tidak mengeluarkan satu kata pun. Kami terisak, dan...berpelukan.
Pelukan mama memang selalu menenangkan, penawar amarah paling manjur.
“Mama tidak usah merasa bersalah yah, saya sudah pikirkan baik-baik. Kalau saya kuliah jauh dari mama, saya juga tidak bisa konsentrasi belajar karena ingat mama terus di sini sedirian. Saya tidak mau mama tinggal sendirian” sambil mengelus punggung tangan mama
Mama masih berurai air mata, bukan sedih tapi ada lengkung senyum bahagia di bibirnya.
Walau saya tidak bisa bersekolah di universitas ternama, tapi saya bahagia. Saya bisa kuliah dan belajar dengan tenang di samping mama, sekaligus bisa menemani dan menghabiskan banyak waktu bersama mama. Itu yang terpenting, kebersamaan dengan mama adalah anugerah yang paling berharga yang telah Allah berikan untuk saya.
Hingga detik ini, saya tidak pernah sedikit pun merasa menyesal akan keputusan yang telah saya ambil beberapa tahun silam. Mama pernah bilang “sekolah dimanapun kalau niatnya cari ilmu, InsyaAllah hidup kita berkah”. Dan pada akhirnya, saya bisa menyandang gelar sarjana tanpa beban sedikitpun, lagi-lagi keyakinan saya membuktikan, semua berkat do’a dan dukungan mama yang selalu berada di samping saya.
“Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orangtua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orangtua” (HR. Al-Hakim)
Terima kasih Ya Rabb, telah membuka pintu hati untuk bisa berpikir bijak dalam mengambil keputusan dan terima kasih atas peristiwa penuh hikmah.
Mama , terima kasih untuk semua pengorbanan dan kasih sayang yang telah tercurah. Terima kasih untuk pelajaran hidup. Semoga Allah membalasnya dengan surga.
Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam ditanya tentang peranan kedua orangtua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu. (HR. Ibnu Majah)
***
Dear mama....
Mungkin lidah ini masih kelu untuk sekedar mengucapkan kalimat “Saya sayang sama mama”
Mungkin mulut ini masih kaku untuk mengungkapkan “saya cinta mama”
Diri ini belum bisa membuktikan sayang dan cinta itu untuk mama
Tapi, jangan khawatir, nama mama selalu menjadi prioritas dalam setiap do’a
Dear mama....
Maafkan diri ini, belum bisa memberikan yang terbaik
Masih selalu membuat hati mama merasa sedih
Mohon ampun untuk semua kesalahan yang telah terjadi
Saya selalu berusaha untuk menjaga mama
Sehat selalu mama, saya masih butuh do’a, cinta dan sayang mama
                                                                        Peluk sayang dari Putri Bungsumu

                                                                                 Nurul Khusyu’ah Djadid

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co

0 komentar:

 
template by suckmylolly.com