Pages

Senin, 14 Desember 2015

Manusia Keramat Satu-satunya


“Dan kami perintahkan kepada manusia (untuk berbakti kepada) kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu dan hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS Luqman : 14)
Saya sangat percaya, mama adalah utusan perpanjangan tangan Allah. Jalan hidup saya sudah diatur sedemikian rapi olehNya, dan mama ditugaskan untuk menuntun, membimbing dan mengarahkan ke jalan yang benar.
Di dunia ini, setiap orangtua sudah jelas menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Pun dengan mama, satu-satunya orangtua yang tersisa dalam hidup saya setelah ayah berpindah alam. Manusia keramat yang selalu mengalirkan do’a-do’a indah di setiap ucapannya. Wanita yang keikhlasannya tidak ada yang bisa menandingi.
Mama adalah manusia yang bisa berperan ganda. Beliau bisa berubah menjadi Ayah, bisa jadi teman, sekaligus sebagai ibu untuk saya. Walaupun hubungan kami sangat dekat dan sering menghiasi hari-hari dengan canda tawa, saya juga pernah kesal, marah bahkan mengurung diri. Sekedar memutar memori beberapa tahun silam. Saat itu, sebagai anak remaja yang memiliki semangat menggebu untuk mewujudkan mimpi bersekolah di universitas ternama, saya meminta izin pada mama untuk melanjutkan pendidikan ke jogja. Sebagai orangtua satu-satunya yang saya miliki, saya memang selalu meminta pendapat mama dalam hal apapun, karena mama memang selalu tokcer dalam memberikan saran. Tapi, hari itu saya berusaha menepis kata “tokcer” itu. Pikiran saya dipenuhi dengan mimpi-mimpi indah untuk bisa bersekolah di jogjakarta.
“saya mau belajar mandiri, ma” Kata saya
“mandiri itu bisa kamu ciptakan sendiri, nak. Tidak hanya tinggal di kampung orang kamu bisa digolongkan mandiri” Nasihat Mama
“Setidaknya kan kalau di sana, saya bisa lakukan semuanya sendiri” Batin saya, tidak mau membantah kata-kata Mama
“memulai membereskan kamar sendiri, itu sudah bagian dari mandiri, nak” Lanjut Mama
Saya hanya menggerakkan kaki, membawa tubuh saya masuk ke kamar. Saya tidak berani membantah kalimat mama saat sedang bicara. Tidak keluar kamar adalah bentuk protes saya pada mama, dan mama sangat paham dengan bahasa tubuh saya itu.
“Abang sama Mbak, semuanya bisa sekolah di tempat yang mereka mau, tapi kenapa saya tidak bisa?” Berontak hati kecil saya
***
Malam hari, saya keluar kamar, berniat untuk mengambil air minum. Kamar tidur saya berhadapan dengan ruang keluarga. Terlihat mama tertidur dengan pulas di depan TV. Entah kenapa hati ini tergerak untuk menghampirinya. Langkah kaki saya gontai berjalan ke arah mama, sisa amarah siang tadi masih ada, tapi sedikit demi sedikit terasa mulai terkikis.
Saya tatap wajah mama yang tidur dengan nyenyak, tidak ada beban yang nampak, hanya terlihat wajah yang sedang melepaskan kelelahan.
Tik...
Sebuah butir air jatuh ke pipi mama. Saya buru-buru menepisnya, jangan sampai mama terbangun. Terlambat, mata mama sekarang menatap mata saya yang sembab karena menangis.
“kamu kenapa, nak?”
“Saya mau kuliah di sini saja, ma” Ujar saya dengan suara lirih
“loh”
“Mungkin setiap anak mama punya cara berbeda untuk bisa bahagiakan mama. Abang sama Mbak sudah buat mama bangga karena prestasi mereka. Sekarang giliran anak bungsu mama, kalau memang menemani mama di sini, bisa buat mama bahagia, saya mau menuruti semua apa mau mama”
Mama tidak mengeluarkan satu kata pun. Kami terisak, dan...berpelukan.
Pelukan mama memang selalu menenangkan, penawar amarah paling manjur.
“Mama tidak usah merasa bersalah yah, saya sudah pikirkan baik-baik. Kalau saya kuliah jauh dari mama, saya juga tidak bisa konsentrasi belajar karena ingat mama terus di sini sedirian. Saya tidak mau mama tinggal sendirian” sambil mengelus punggung tangan mama
Mama masih berurai air mata, bukan sedih tapi ada lengkung senyum bahagia di bibirnya.
Walau saya tidak bisa bersekolah di universitas ternama, tapi saya bahagia. Saya bisa kuliah dan belajar dengan tenang di samping mama, sekaligus bisa menemani dan menghabiskan banyak waktu bersama mama. Itu yang terpenting, kebersamaan dengan mama adalah anugerah yang paling berharga yang telah Allah berikan untuk saya.
Hingga detik ini, saya tidak pernah sedikit pun merasa menyesal akan keputusan yang telah saya ambil beberapa tahun silam. Mama pernah bilang “sekolah dimanapun kalau niatnya cari ilmu, InsyaAllah hidup kita berkah”. Dan pada akhirnya, saya bisa menyandang gelar sarjana tanpa beban sedikitpun, lagi-lagi keyakinan saya membuktikan, semua berkat do’a dan dukungan mama yang selalu berada di samping saya.
“Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orangtua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orangtua” (HR. Al-Hakim)
Terima kasih Ya Rabb, telah membuka pintu hati untuk bisa berpikir bijak dalam mengambil keputusan dan terima kasih atas peristiwa penuh hikmah.
Mama , terima kasih untuk semua pengorbanan dan kasih sayang yang telah tercurah. Terima kasih untuk pelajaran hidup. Semoga Allah membalasnya dengan surga.
Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam ditanya tentang peranan kedua orangtua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu. (HR. Ibnu Majah)
***
Dear mama....
Mungkin lidah ini masih kelu untuk sekedar mengucapkan kalimat “Saya sayang sama mama”
Mungkin mulut ini masih kaku untuk mengungkapkan “saya cinta mama”
Diri ini belum bisa membuktikan sayang dan cinta itu untuk mama
Tapi, jangan khawatir, nama mama selalu menjadi prioritas dalam setiap do’a
Dear mama....
Maafkan diri ini, belum bisa memberikan yang terbaik
Masih selalu membuat hati mama merasa sedih
Mohon ampun untuk semua kesalahan yang telah terjadi
Saya selalu berusaha untuk menjaga mama
Sehat selalu mama, saya masih butuh do’a, cinta dan sayang mama
                                                                        Peluk sayang dari Putri Bungsumu

                                                                                 Nurul Khusyu’ah Djadid

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co

Kamis, 12 Juni 2014

Finally I Get it (S.E)

Alhamdulillah....Alhamdulillahirabbil'alamin......
Wuhuw....*Mewek*

Aduh Speechles....mau ngomong dari mana dulu yak. Saking senangnya.
Ya Allah terima kasih atas semua kemudahan di hari ini. Idih berasa melayang kaki saya hahaha....
benneran sarjana nih ? *TepukTepukPipi* ternyata bukan mimpi. Alhamdulillah....

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, selama 4 tahun pas, akhirnya saya dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelas sarjana Ekonomi. Ecciyeee yang sudah sarjana hahaha.....

Hari ini adalah hari bersejarah dalam hidup saya, dan otomatis tidak akan pernah terhapus dari memori ingatan saya. Kayaknya semua orang yang sudah mendapat gelar, rasanya akan sama. sungguh luar biasa. Luar biasa karena sudah mampu merobohkan dinding ketakutan akan sidang akhir.

Yah....tidak dipungkiri bahwa saya juga sempat stress dan pesimis disaat lagi pusing-pusingnya mengerjakan skripsi. Sebuah tugas akhir yang menjadi momok setiap mahasiswa tingkat akhir.

Gilaaa...galaunya minta ampun. Tapi, saya percaya dengan Firman Allah, bahwa "sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan" dan itu yang menjadi dasar saya untuk tetap bertahan dalam proses akhir ini.

Setiap kejadian itu pasti ada hikmahnya, semua terjadi atas kehendak Allah. Beberapa hikmah yang dapat saya petik dalam proses perjalanan hidup saya ini :

1. Tidak dikatakan orang beriman bila tidak ditimpakan ujian untuknya. Yah, untuk mendapatkan gelar sarjana, memang harus melewati berbagai macam ujian. Mulai dari ujian semester untuk naik tiap semester. Masa iyyah kita bisa sarjana kalau tidak pernah ikut ujian untuk naik semester. Ujian itu berguna untuk melihat kemampuan kita selama 1 semester itu. Begitupun dengan ujian hidup. Ujian yang diberikan kepada masing-masing manusia dengan level yang berbeda gunanya untuk mengukur seberapa besar keimanan dan ketakwaan kita terhadap takdir yang ditetapkan Allah atas hidup kita. Jadi setiap perjuangan yang dilakukan itu tidak luput dari yang namanya ujian. Saya yakin, ujian yang saya hadapi ini, tidak lain untuk membuat saya bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi dan memiliki ilmu yang bisa bermanfaat untuk saya pribadi maupun oranglain.

2. Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu. Yup....selama proses pengerjaan skripsi, saya dituntut untuk sabar menghadapi segala kejadian yang tidak mengenakkan hati. Mulai dari kekecewaan akan skripsi yang dicoret-coret, kelelahan menunggu pembimbing yang akhirnya tidak datang, dan rasa sakit hati ketika dibentak pembimbing ketika isi skripsi tidak sesuai dengan keinginannya. Alamaaaak....Stressnya tingkat dewa. Tapi, yah....mau tidak mau, kejadian tersebut harus dilewati dengan sabar. Bahkan sering saya menangis ketika sholat. Menangis karena merasa kesulitan dalam menghadapi semua yang terjadi, tapi setelah nangis di atas sejadah, hati saya plong lagi dan semangat kembali terisi full. itu sumber kekuatan saya.

3. Tidak ada kerja keras yang sia-sia. Kita tidak mendapatkan sesuatu jika tidak berusaha. di dunia ini tidak ada yang instan. kalaupun ada yang instans pasti hasilnya tidak akan maksimal. Berusaha melawan kemalasan saat pengerjaan skripsi adalah tindakan yang sangat sulit. Berjuta alasan dan alibi yang bergelantungan di otak, yah alhasil skripsi kesayangan harus terabaikan dan tersimpan rapi di laptop. Kalau itu terus-terus terjadi, saya tidak akan mendapat gelar sarjana, tapi akan mendapat gelar MAPALA (mahasiswa paling lama). Pencapaian saya hingga detik ini, berawal dari usaha melawan semua alasan-alasan yang dapat membuat saya jadi malas menatap laptop lama-lama. Tapi, untungnya saya mampu melewati rintangan demi rintangan itu.

4. Do'a adalah senjata orang mukmin. Sebagai seorang muslim, kita tidak pernah luput dari yang namanya berdo'a. Ada yang bilang "kalau usaha tanpa do'a itu namanya sombong, tapi kalau berdo'a tanpa usaha itu namanya malas". Selama berjuang dalam penyelesaian skripsi, selain usaha, saya tidak henti-hentinya berdo'a agar diberikan kemudahan dan kelancaran. Dan hasilnya Alhamdulillah...saat ujian saya mendapat penguji yang baik-baik. bahkan dari krtiga penguji, dua diantaranya adalah pembimbing 1 dan pembimbing 2 saya. bayangkan, saya adalah satu-satunya peserta yang mendapat pembimbing sebagai penguji. hasilnya saya tidak pernah merasa kesulitan di dalam ruangan pas ujian berlangsung. Suatu kesyukuran yang sangat luar biasa. saya sangat yakin, bahwa semua itu atas kehendak Allah, yang memberikan kemudahan untuk saya.

setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang berbeda, tapi semoga apa yang kita jalani hingga saat ini dapat memberikan hikmah dikemudian hari. Tidak ada yang sia-sia selama kita berusaha......

Beribu ucapan terima kasih tidak akan bisa membalas semua anugerah yang telah Allah berikan kepada saya. Ibu, terima kasih untuk segala perhatian dan do'a indah yang dilantunkan untuk saya. Kedua kakak tercinta, Abang iyar dan Mbak Lisha terima kasih untuk semua kasih sayangnya dan semangat yang terus diberikan hingga detik ini.
Tunggu hari dimana saya tampil dengan mengenakan kostum kebanggan para sarjana :')

*SalamSemangat*
Nurul_Khu

Selasa, 15 April 2014

BERSYUKUR ADALAH KUNCI KEBAHAGIAAN

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!


BAHAGIA

Guys, Apa yang ada di benak kalian setelah mendengar kata “Bahagia” ? Mungkin kalian punya versi masing-masing tentang arti Bahagia.

Kalian pernah dengar nama Gobind Vashdev ? Yah, lelaki yang menyebut dirinya sebagai heartworker (seorang pekerja hati). Saya menemukan arti kebahagiaan setelah membaca bukunya yang berjudul “Happiness Inside”. Sedikit kuceritakan, Gobind Vashdev adalah seorang WNI keturunan India yang menghabiskan masa kecilnya di Surabaya, kemudian menetap di Bali. Kemunculannya yang pertama kali di layar TV yaitu pada saat dia mengikuti reality show Penghuni Terakhir 2 di ANTV sebagai seorang pesulap dan volunteer.
Gobind tidak lulus S1, tetapi sejak kecil ia memiliki ketertarikan yang besar pada pelajaran yang bersifat informal. Buatnya, setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah, dan setiap jam adalah waktu belajar. Menjadi vegetarian lebih dari 20 tahun sama sekali tidak menghambat langkahnya dalam berkiprah di dunia yang di cintainya ini. Gobind menemukan kebahagiaan dalam berbagi dan memberikan apa yang ia miliki kepada orang lain.
Itu sedikit profil tentang Gobind Vashdev yang saya baca di akhir lembar bukunya.

Saya banyak belajar memaknai hidup dan menemukan arti kebahagiaan di dalam buku Gobind.

“Aku belajar diam dari yang cerewet, toleransi dari yang tidak toleran dan kebaikan dari yang jahat. Namun anehnya, aku tidak pernah merasa berterima kasih kepada guru-guruku itu”
Itu salah satu petikan kalimat yang ada dalam buku Gobind. Betapa kita tidak pernah menyadari bahwa setiap hari dan setiap waktu, di manapun dan kapanpun selama kita masih bernapas,  kita selalu belajar. Konotasi belajar bukan hanya di sekolah, seperti prinsip Gobind
“setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah dan setiap jam adalah waktu belajar”

Yah…Belajar itu cakupannya luas, guys…Kita bisa belajar, belajar menjadi seseorang yang pendiam ketika kita bertemu dengan orang yang cerewet. Bahkan kita dapat belajar menjadi orang baik ketika kita berhadapan dengan orang jahat.

Bahagia itu pilihan menurut Gobind, pilihan untuk membuat diri kita nyaman dan mensyukuri segala apa yang kita miliki, karena belum tentu orang lain bisa menikmati apa yang kita miliki saat ini.

Ngomong-ngomong tentang Gobind. Gobind itu sekarang menetap di Bali. Kalian pernah ke Bali ?? Apa ?? Belum ?? Astaga…saya juga belum pernah ke sana, guys hehehe but no problem, suatu saat kalau diberi kesempatan, kita bisa merasakan keindahan pulau yang kaya akan budayanya itu.
Di jaman yang modern ini, semua bisa kita jelajahi dengan menggunakan kecanggihan internet. Kita bisa melancong ke mana saja dengan internet. Kalau saya ditanya mau liburan kemana, jelas saya tertarik berlibur ke Bali. Why ? karena Bali adalah salah satu pulau kekayaan Indonesia. Saya sih punya prinsip, sebelum bisa liburan ke luar negeri, sebagai warga Negara Indonesia, sayang sekali rasanya bila belum menikmati keindahan negeri sendiri.

Waalaupun belum pernah ke Bali, tapi saya bisa merasakan keindahan pulau Bali lewat Laptop. Bali memiliki berbagai macam keindahan. Mungkin ini alasan kenapa Gobind betah menetap di Bali. Tentu saja karena pulaunya luar biasa keren, jelas semua orang yang berkunjung ke sana dapat merasakan kebahagiaan, bukan Cuma Gobind saja, tapi semua orang bisa merasakan itu.
Untuk lebih jelasnya, di Bali itu ada sebuah pantai yang indah sekali namanya pantai Nusa dua.

Pantai Nusa dua Bali (Facebook The bay Bali)

Keren nggak, guys…widih…Amazing. Pasirnya putih bersih dan membuat orang yang melihatnya seperti jingkrak-jingkrak pengen terbang ke sana hahaha….
Nah, di dekat Pantai Nusa dua terdapat sebuah Square Complex yang terdiri dari restoran-restoran elit yang terkenal bernama “The Bay Bali”.
You should look this, guys 

Pulau Bali (Facebook The Bay Bali)


Wuhuw…..it’s The wonderful island. Sungguh luar biasa keindahan alam negeri kita, guys. Tidak kalah indah dengan pemandangan luar negeri.
Itulah kenapa Gobind sangat peduli dengan alam. Karena baginya alam adalah guru yang sudah terlalu baik pada kita sehingga patut kita hormati dan pelihara.

Bahagia itu sederhana kan, guys. Kita cukup mensyukuri apa yang kita miliki, termasuk mensyukuri keindahan alam yang Tuhan berikan di negeri kita Indonesia.

“Bersyukur ibarat kunci untuk membuka pintu kebahagiaan” (Gobind Vashdev)

Minggu, 13 April 2014

Al-Qur'an dan Selat Gibraltar

"Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu, diantara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan" (Ar-Rahman 19-21)

Allahu Akbar !! Guys....kemarin sehabis magrib, saya melanjutkan tilawah saya, akhir-akhir ini mungkin sekitar 1 bulan terakhir, saya sudah mulai mengikuti program ODOJ (one day one juz). Alhamdulillah bacaan saya sudah berada di surah Ar-Rahman. Nah, saya mau share tentang beberapa ayat dalam surah tersebut. Setelah saya membaca arti dari surah yang saya baca, saya tercengang pada surah Ar-Rahman ayat 19-21. Di situ tertulis jelas bahwa Allah membiarkan 2 laut mengalir dan kedua laut tersebut bertemu, dan di dua laut itu ada batas yang tidak dilampaui antara dua laut masing-masing, MasyaAllah it's Amazing,guys...seketika ingatan saya terbawa ke beberapa waktu yang lalu, saat itu saya mengikuti training ESQ, dan di sana kami di putarkan video tentang kunjungan pak Ary Ginanjar ke Selat Gibraltar. Dalam video itu pak Ary berada tepat di dekat perbatasan antara kedua air yang terlihat berbeda warna. Yang satu berwarna biru muda dan satunya berwarna biru tua.

Saya tiba-tiba merinding saat kedua mata saya melihat keajaiban yang Allah ciptakan itu. Allah menunjukkan kebesarannya lewat berbagai macam hal yang diciptakanNya dan salah satunya adalah Selat Gibraltar. Allahu Akbar..Allahu Akbar...Allahu Akbar

Nggak percaya apa yang saya katakan ? ok fix, saya akan menunjukkan buktinya, look this,guys


Sudah percaya ?? apa ?? belum juga ?? hmm...okeh..okeh tadi saya sempat browsing dan ketemu video yang pas untuk membuat kalian percaya. Silahkan klik link ini : http://www.youtube.com/watch?v=rT9Y5vTAqjo dijamin kalian merinding disco deh pas liat videonya.

Nah, Letak Selat Gibraltar berada di benua Eropa. Selat Gibraltar (bahasa Arab: جبل طارق, bahasa Spanyol: Estrecho de Gibraltar) adalah selat yang memisahkan Samudra Atlantik dengan Laut Tengah. Pada sisi utara adalah Spanyol dan Gibraltar, pada sisi selatan adalah Maroko dan Ceuta (sebuah eksklave Spanyol di Afrika Utara). Ada beberapa pulau kecil dalam selat ini yang diperebutkan, seperti Pulau Perejil, yang diklaim oleh Spanyol dan Maroko.

Subhanallah....Maha Benar Allah atas segala firmanNya.

Mungkin sekian dulu tulisan saya ini, semoga bisa bermanfaat
Sekian dan Terima kasih :)
 

Sabtu, 12 April 2014

Belajar



"Hidup adalah belajar"

Kalian sependapat dengan kalimat saya di atas ?? kalau iya kita "TOS" hehehe kalau nggak, yah segala sesuatu pasti ada pro dan ada yang kontra, no problem.

Kali ini saya ingin menunjukkan sesuatu. Sesuatu link yang memuat tulisan pendek saya.
Akhir tahun 2013, saya pernah mengikuti sebuah lomba menulis yang di adakan oleh http://www.liputan6.com/
Singkat cerita,saya mengirimkan tulisan saya sesuai dengan tema saat itu "Resolusi 2014". Dengan penuh percaya diri, saya kirim dan akhirnya tulisan saya dimuat di web Liputan6. hahaha....bangga sih, karena itu pertama kalinya tulisan saya di muat di media lain selain blog saya sendiri hahaha.

Hari pengumuman telah tiba. Ku buka link yang memuat pemenang lomba saat itu, pas dicari-cari akhirnya amazing  namaku tidak ada, guys hahaha.....kecewa,hmm...dikit sih tapi nggak papa. Kejadian ini membuat saya lebih paham artinya menerima. Menerima segala ketentuan yang sudah Allah tentukan. Toh itu bukan rejeki saya. mungkin rejeki saya ada diluar sana yang jauh lebih baik dari yang saya harapkan.

seperti hadist
"Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang rezekinya akan tertukar karena Allah sudah mengatur rezeki masing-masing makhluk-Nya" (H.R Abu Dawud)
Saya meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi, sudah di tentukan oleh Allah. Itu salah satu dasar saya untuk menerima segala yang terjadi dalam hidup saya.

Okeh..okeh...mengenai tulisan saya yang di muat oleh Liputan6 bisa di buka di link ini http://news.liputan6.com/read/784026/resolusi-2014-belajar-di-kampung-inggris Di sana saya menceritakan apa resolusi saya di tahun 2014.

walaupun tulisan saya tidak bisa menjadi pemenang, tapi biarlah itu menjadi bukti bagi saya bahwa tulisan saya pernah dibaca banyak orang lewat Liputan6 hehehe....Semoga tulisan saya itu bisa menjadi do'a untuk masa depan saya di kemudian hari. Selama Allah masih memberi saya umur, saya ingin selalu belajar. InsyaAllah....


Semoga Manfaat hehehe
 Terima Kasih dan Wassalam....

Minggu, 22 Desember 2013

Mother's Day



Assalamu'alaikum....

Malam minggu sendirian di rumah itu waktu emasku untuk menatap laptop hingga puas haha, mumpung mama lagi keluar kota jadi nggak ada yang ngawasin :D

Tanggal 22 Desember merupakan peringatan Hari ibu
Nah, kali ini aku ingin berbagi cerita tentang caraku merayakan hari ibu bersama mamaku tercinta. oh iya, sebenarnya hari ibu itu bukan sesuatu yang wajib dirayakan, karena banyak juga yang berpendapat seperti ini "ngapain rayain Hari ibu, kalau cuma mau nunjukin rasa sayang ke mama atau ibu kita, kan nggak mesti nunggu tanggal 22 desember. sehari-hari juga bisa" iya juga sih, tapi kalau menurutku, nggak ada salahnya juga sekali-kali kita tuh meluangkan satu hari ajah untuk bersama mama. Apalagi kalau kita itu jarang ketemu mama, ada yang jauh dari orang tua, kan nggak ada salahnya di hari special itu kita membuat sesuatu yang bisa bermakna di hati untuk mama kita. Apapun itu, berbeda pendapat dalam segala hal tidak dapat dihindari. jadi lakukan saja sesuai dengan keyakinan dan yang menurut kita itu benar serta sesuai dengan hati nurani kita.okeh udah KLOP, kan :)

Nah, bagaimana caraku memberikan sesuatu yang special buat mamaku ?? ceritanya begini.

Awalnya, aku bingung mau ngasi apa ke mama, tapi pas sehari sebelum hari "H", mungkin ini juga yang dinamakan "The Power of Kepepet" hehehe...slogan yang pernah diucapkan temanku yang selalu membuatku terbahak ketika dia mengucapkannya...Akhirnya aku berniat membuat sebuah kue brownies (satu-satunya kue yang resepnya kuhapal diluar kepala). aku mau nujukin sama mama kalau aku sudah berhasil mengaplikasikan resep yang diajarkannya padaku dulu.

Hari "H" pun tiba. Setelah melihat mama brangkat ngantor, aku langsung menyingsingkan lengan baju sambil memasang ikat kepala, bersiap untuk bertempur dengan bahan kue (alah lebay yak hehehe).
Aku beraksi menyiapkan segala perlengkapan untuk menunjang aksiku di dapur (bergaya ala-ala chef haha)

Setelah mempersiapkan segala perlengkapan mulai dari baskom tempat adonan kuenya hungga mixer untuk mencapur adonan-adonannya, saya akhirnya bergulat dengan segala peralatan dan bahan-bahannya.Dan taraaaa..... ini hasil tampilan adonan yang sudah kucampur menurut resep.

Adonan kuenya
Agak berantakan dikit sih, tapi nggak papalah, ini untuk pemula kan hehehe.....
Okeh, setelah bahan sudah berbentuk adonan, aku menyiapkan cetakan kue yang akan aku gunakan. setelah siap, adonan kue tadi aku tuang ke dalam cetakan yang berbentuk LOVE. Kemudian cetakan yang sudah berisi adonan aku masukkan ke dalam kukusan kue yang sudah aku panaskan 25 menit sebelumnya. Adonan kue pun dimasukkan dan aku perlu waktu menunggu hingga 45 menit hingga kuenya pun jadi Horreee....

Adonan yang dimasukkan ke cetakan

Kuenya sudah matang, saatnya menghias. Hmm...nggak..nggak berhubung perlengkapan untuk menghias tidak ada, akhirnya kuenya tidak aku hias hahaha....
Mikir...mirkir..mikir..."Aha" dapat ide, aku akhirnya......

Hasil akhirnya

Akhirnya tampilannya seperti ini, hahaha....kuenya asli tanpa di dandan.... :D disamping kue ada foto aku sama mama, dan sebelahnya lagi ada sebuah kertas yang ada tulisan aku yang romantis (Alah gaya) hihihi....

Menunggu sampe sore, akhirnya mama pulang. Mama sempat terkejut dengan tampilan meja yang meriah hahaha...Mama akhirnya meluk aku, terus membaca kertas yang ada tulisanku disana isinya seperti ini :

Surat yang aku bilang agak lebay hahaha
  

Mama akhirnya terharu.... T_T
Aku bilang sama mama "Ma, apa yang aku lakuin ini belum ada apa-apanya dibandingkan semua pengorbanan mama selama ini ke aku. Aku minta maaf sama mama kalo selama ini aku selalu bikin mama kessel"
Mama hanya bisa meluk aku...

Ini bukan sinetron yang ceritanya agak lebay. Semua orang pasti punya cerita, tapi bagaimana kita memaknai cerita itu dan menjadikan cerita itu bermakna dalam hidup kita. ini ceritaku mana ceritamu..

Mungkin sekian dulu cerita aku kali ini...
sekian dan terima kasih :)

Rabu, 04 Desember 2013

Disangka Penulis



Assalamu’alaikum... ^_^

Uyeah,,pagi ini begitu semangat.
Hmm...Saya mau bagi pengalaman lagi,yak ;)

Cerita kali ini Sesuai dengan judul postingan ini, “Disangka Penulis”. Ini pengalaman saya, beberapa hari yang lalu. Pagi itu saya membuka akun facebook, niatnya memang satu Cuma nge-cek pemberitahuan. Ternyata ada permintaan pertemanan disana, aku buka akunnya. Memang saya suka kepo-in akun orang dulu kalau ada yang add  hehehe ^_^ (apalagi kalau yang add itu cowok, kalau ada aneh2 di dindingnya langsung permintaannya saya tolak hehehe). Pas sudah cek, ternyata yang punya akun alhamdulillah cewek ;) otak dan tangan pun kompak untuk menggeser kursor ke arah tulisan “konfirmasi pertemanan”. Biar nampah relasi (ca’ilah macam orang penting saja :P)

Beberapa menit kemudian, ada pesan dari pemilik akun yang baru saja saya konfirmasi. Kurang lebih seperti ini isi pesannya.

“Assalamu’alaikum...terima kasih banyak yah, dek. Salam kenal”

Hmm,,,,rupanya dia tau kalau saya ini lebih muda darinya, sudah kupastikan dia juga sudah kepo-in dinding Facebookku hehehe (dugaan sementara) karena, kalau tidak, bagaimana dia bisa tau kalau dia itu lebih tua dari saya ?? Wallahu’alam lah

Okeh, selanjutnya saya membalas pesan beliau

“wa’alaikumsalam, sama-sama,kak. Oh iya, salam kenal juga

Selang sehari beliau membalas lagi pesan yang saya kirim

“dek nurul ini penulis yah, sudah punya buku yah. Senang deh bisa kenal dengan penulis. Saya juga senang nulis.semoga bisa menjadi teman sharing yah”

Gubrak!!!  Nah,kan berarti kakak itu sudah nge-kepoin dinding saya pastinya. Saya balas lagi tuh
“waaah...bukan,kak buku itu milik bersama, kebetulan ceritaku Cuma nebeng di sana hehehe. Yah, saya senang karena punya teman yang satu cita-cita”

Beliau balas lagi

“ah, Nurul itu sudah jadi penulis karena sudah punya buku, kan di sana sudah tertulis namanya dek Nurul”
Ulalah....ngotot amat kakak ini, tapi bagus juga, kan bisa jadi do’a tuh, smga Allah dengar dan langsung di ijabah. Saya balas lagi pesannya

“hehehe...Aamiin, smga bisa menjadi penulis yang bisa memberikan banyak manfaat yah,kak. Ilmuku masih cetek loh,kak masih belum pantas dikatakan penulis”

Beliau balas lagi 

“pengen deh rasanya beli bukunya Nurul. Bukunya bisa di dapat dimana yah??”

Kebetulan buku yang memuat ceritaku itu, belum ada di sulawesi, tapi masih daerah Jawa, akhirnya saya bilang begini ke kakak itu

“waah, senang rasanya ada peminatnya hehehe...maaf,kak kebetulan bukunya itu belum ada di gramedia sulawesi, cetakannya masih tersebar di daerah jawa”

Sampai saat ini, si kakak itu belum juga balas pesanku hehehe...mungkin lagi sibuk.
Aduh jadi nggak enak hati saya di katain “Penulis” padahal ilmu saya itu tidak seluas penulis hebat seperti Bunda Asma Nadia, Bunda Pipit Senja, Kang Furqon, kak Ahmad Rifa’i, Pak Salim A fillah dan penulis lain. Wuuuuuw ilmu saya itu sangat jauh ceteknya di bandingkan ilmu mereka yang sudah dikenal dengan buku-bukunya yang luar biasa.

Yah, menurut saya buku yang di maksud kakak di atas tadi, hanya setitik ilmu yang bisa saya bagi. Itupun hanya karena menang lomba jadi cerita saya itu bisa nebeng di buku itu yang kebetulan milik kak Ahmad Rifa’i Rifan hehehe.

Buku kak Ahmad Rifa'i Rifan
 
Pernah juga sewaktu pertama kali saya posting status di Media Facebook tentang buku itu, teman mbak Lisha (kakak saya) antusias sekali mau membeli dan membaca bukunya. Senang sih, tapi ada rasa malu di dalam hati. Malu karena saya merasa kata-kata dan kalimat yang saya utarakan di dalam buku itu tersesan sangat biasa dan jauh dari kata “catar membahana ala syahrini”. Tapi, rasa syukur itu tak pernah hilang, karena saya tahu ini semua sudah direncanakan Allah dan bukan kebetulan.

Beberapa bulan kemudian, mbak Lisha pulang ke rumah dengan membawa bingkisan untuk saya. Pas saya buka ternayat itu buku yang memuat cerita saya, katanya temannya mau minta tanda tangan saya, supaya kalau sudah terkenal nanti katanya sudah tidak sussah lagi dapat tanda tangan saya hehehehe ada-ada saja kan ulahnya teman mbakku itu. Baiklah akhirnya sayapun membubuhkan tanda tangan saya di dalam buku itu. Malu sekali saya, karena belum apa-apa sudah heboh kayak penulis terkenal saja pake tanda tangan segala, kan bukunya bukan milik saya, disana banyak sekali nama penulis yang ceritanya juga dimuat di buku Antologi itu. Tapi, mbak Lisha bilang ke saya “semoga itu bisa menjadi do’a dan semangat untuk terus mencoba menjadi penulis beneran, yang ada bukunya, dan di sana hanya ada namamu saja”. Saya hanya tersenyum dan dengan sungguh-sungguh meng-Aamiin-kan ucapan mbak Lisha.

Tampilan buku yang ada tanda tangan saya hehe ;)


Memang itu cita-cita saya. Pengen jadi penulis, yang bisa memberikan manfaat dan memotivasi banyak orang, seperti prinsipnya kak ahmad Rifa’i “semoga tulisanku bisa menjadi ladang amal jika kelak di alam barzah, karena amal jariyah itu tidak pernah putus” Aamiin....walaupun Allah tidak meberikan nasib menjadi penulis, tapi semoga saya bisa terus menjadi manusia yang bermanfaat, intinya begitu hehehe.... ^_^

Tapi, semoga sangkaan mereka, yang menganggap saya penulis bisa benar-benar memacu semangat saya untuk menjadi penulsi yang bermanfaat ;) Aamiin Ya Rabbal'Alamin...

Wassalamu’alaikum.....

 
template by suckmylolly.com